Takkan berhenti untuk bermimpi..

FLEBITIS

FLEBITIS

Flebitis adalah suatu peradangan pada pembuluh darah (vena) yang dapat terjadi karena adanya injury misalnya oleh faktor (trauma) mekanik dan faktor kimiawi, yang mengakibatkan terjadinya kerusakan pada endothelium dinding pembuluh darah khususnya vena. Kondisi ini dikarakteristikkan dengan adanya daerah yang memerah dan hangat di sekitar daerah insersi/penusukan atau sepanjang vena, nyeri atau rasa lunak pada area insersi atau sepanjang vena, dan pembengkakan. Insiden flebitis meningkat sesuai dengan lamanya pemasangan jalur intravena, komposisi cairan atau obat yang diinfuskan (terutama pH dan tonisitasnya, ukuran dan tempat kanula dimasukkan, pemasangan jalur IV yang tidak sesuai, dan masuknya mikroorganisme saat penusukan).

Macam- macam Flebitis :

FLEBITIS KIMIA

1)      pH dan osmolaritas cairan infus yang ekstrem selalu diikuti risiko flebitis tinggi. pH larutan dekstrosa berkisar antara 3 – 5, di mana keasaman diperlukan untuk mencegah karamelisasi dekstrosa selama proses sterilisasi autoklaf, jadi larutan yang mengandung glukosa, asam amino dan lipid yang digunakan dalam nutrisi parenteral bersifat lebih flebitogenik dibandingkan normal saline. Obat suntik yang bisa menyebabkan peradangan vena yang hebat, antara lain kalium klorida, vancomycin, amphotrecin B, cephalosporins, diazepam, midazolam dan banyak obat khemoterapi. Larutan infus dengan osmolaritas > 900 mOsm/L harus diberikan melalui vena sentral.

2)      Mikropartikel yang terbentuk bila partikel obat tidak larut sempurna selama pencampuran juga merupakan faktor kontribusi terhadap flebitis. Jadi , kalau diberikan obat intravena masalah bisa diatasi dengan penggunaan filter 1 sampai 5 µm.

3)      Penempatan kanula pada vena proksimal (kubiti atau lengan bawah) sangat dianjurkan untuk larutan infus dengan osmolaritas > 500 mOsm/L. Hindarkan vena pada punggung tangan jika mungkin, terutama pada pasien usia lanjut. Jangan gunakan vena punggung tangan bila anda memberikan : Asam Amino + glukosa; Glukosa + elektrolit; D5 atau NS yang telah dicampur dengan obat suntik atau Meylon dan lain-lain.

4)      Kateter yang terbuat dari silikon dan poliuretan kurang bersifat iritasi dibanding politetrafluoroetilen (teflon) karena permukaan lebih halus, lebih thermoplastik dan lentur. Risiko tertinggi untuk flebitis dimiliki kateter yang terbuat dari polivinil klorida atau polietilen.

5)      Dulu dianggap pemberian infus lambat kurang menyebabkan iritasi daripada pemberian cepat.

FLEBITIS MEKANIS

Flebitis mekanis dikaitkan dengan penempatan kanula. Kanula yang dimasukkan ada daerah lekukan sering menghasilkan flebitis mekanis. Ukuran kanula harus dipilih sesuai dengan ukuran vena dan difiksasi dengan baik.

FLEBITIS BAKTERIAL

Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap flebitis bakteri meliputi:

1)      Teknik pencucian tangan yang buruk

2)      Kegagalan memeriksa peralatan yang rusak. Pembungkus yang bocor atau robek mengundang bakteri.

3)      Teknik aseptik tidak baik

4)      Teknik pemasangan kanula yang buruk

5)      Kanula dipasang terlalu lama

6)      Tempat suntik jarang diinspeksi visual

 

PENCEGAHAN DAN PENANGANAN FLEBITIS

  1. Mencegah flebitis bakterial

Pedoman ini menekankan kebersihan tangan, teknik aseptik, perawatan             daerah infus serta antisepsis kulit. Walaupun lebih disukai sediaan chlorhexidine-  2%, tinctura yodium , iodofor atau alkohol 70% juga bisa digunakan.

  1. Selalu waspada dan jangan meremehkan teknik aseptik.

Stopcock sekalipun (yang digunakan untuk penyuntikan obat atau         pemberian infus IV, dan pengambilan sampel darah) merupakan jalan masuk        kuman yang potensial ke dalam tubuh. Pencemaran stopcock lazim dijumpai dan            terjadi kira-kira 45 – 50% dalam serangkaian besar kajian.

  1. Rotasi kanula

May dkk(2005)(10) melaporkan hasil 4 teknik pemberian PPN, di mana mengganti tempat (rotasi) kanula ke lengan kontralateral setiap hari pada 15           pasien menyebabkan bebas flebitis. Namun, dalam uji kontrol acak yang dipublikasi baru-baru ini oleh Webster disimpulkan bahwa kateter bisa        dibiarkan aman di tempatnya lebih dari 72 jam Jika tidak ada kontraindikasi.        The Centers for Disease Control and Prevention menganjurkan penggantian          kateter setiap 72-96 jam untuk membatasi potensi infeksi, namun rekomendasi ini    tidak didasarkan atas bukti yang cukup

  1. Aseptic dressing

Dianjurkan aseptic dressing untuk mencegah flebitis. Kasa setril diganti            setiap 24 jam

  1. Laju pemberian

Para ahli umumnya sepakat bahwa makin lambat infus larutan hipertonik diberikan makin rendah risiko flebitis. Namun, ada paradigma berbeda untuk    pemberian infus obat injeksi dengan osmolaritas tinggi. Osmolaritas boleh             mencapai 1000 mOsm/L jika durasi hanya beberapa jam. Durasi sebaiknya       kurang dari tiga jam untuk mengurangi waktu kontak campuran yang iritatif dengan dinding vena. Ini membutuhkan kecepatan pemberian tinggi (150 – 330 mL/jam).             Vena perifer yang paling besar dan kateter yang sekecil dan sependek mungkin dianjurkan untuk mencapai laju infus yang diinginkan, dengan filter 0.45mm.       Kanula harus diangkat bila terlihat tanda dini nyeri atau kemerahan. Infus relatif         cepat ini lebih relevan dalam pemberian infus jaga sebagai jalan masuk obat,           bukan terapi cairan maintenance atau nutrisi parenteral.

  1. Titrable acidity

Titratable acidity dari suatu larutan infus tidak pernah dipertimbangkan            dalam kejadian flebitis. Titratable acidity mengukur jumlah alkali yang    dibutuhkan untuk menetralkan pH larutan infus. Potensi flebitis dari larutan infus   tidak bisa ditaksir hanya berdasarkan pH atau titrable acidity sendiri. Bahkan pada          pH 4.0, larutan glukosa 10% jarang menyebabkan perubahan karena titrable            acidity nya sangat rendah (0.16 mEq/L). Dengan demikian makin rendah    titrable acidity larutan infus makin rendah risiko flebitisnya.

  1. Heparin & hidrokortison

Heparin sodium, bila ditambahkan ke cairan infus sampai kadar akhir 1 unit/mL, mengurangi masalah dan menambah waktu pasang kateter. Risiko flebitis yang berhubungan dengan pemberian cairan tertentu (misal, kalium        klorida, lidocaine, dan antimikrobial) juga dapat dikurangi dengan pemberian       aditif IV tertentu, seperti hidrokortison. Pada uji klinis dengan pasien penyakit      koroner hidrokortison secara bermakna mengurangi kekerapan flebitis pada vena           yg diinfus lidokain, kalium klorida atau antimikrobial. Pada dua uji acak lain, heparin sendiri atau dikombinasi dengan hidrokortison telah mengurangi   kekerapan flebitis, tetapi penggunaan heparin pada larutan yang mengandung       lipid dapat disertai dengan pembentukan endapan kalsium.

  1. In-line filter

In-line filter dapat mengurangi kekerapan flebitis tetapi tidak ada data yang mendukung efektivitasnya dalam mencegah infeksi yang terkait dengan alat intravaskular dan sistem infus .

 

 

 

Comments on: "FLEBITIS" (1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: